Minggu, 13 September 2015

Kau Mengacaukan Fikiranku (Eleven)

Hampir dua tahun sudah aku berusaha melupakannya, aku mencoba pergi darinya, mencoba mengisi hari-hari dengan keanehanku yang bahkan mungkin banyak orang yang tak sejalan dengan fikiranku. Ntah aku yang bodoh atau semacamnya, bahkan banyak dan semua temanku bosan mendengarku dan tak mau mendengar alasan yang ku lakukan.

Kau tau sulitnya aku bertahan dikala ku sendirian dan merasa sendiri, tak ada yang menghibur dan hanya mendengarkan orang yan terhibur. Sejak hari iu, dimana hubunganku dengannya tlah usai, aku pernah berjanji pada diriku sendri, aku akan menjadi seseorang yang cuek dengan kata cinta dari oranglain dan memblokir diriku sendiri. Dan itu benar terjadi, sampai kini aku tak bisa merasakan rasa itu lagi, kecuali dengannya. Entah apa yang merasukiku dan semua hari-hariku. Sesekali kubisa melupakannya, namun banyak kali dan banyak hal yang tak bisa kulupakan mulai dari kesenangan yang pernah kita buat bersama-sama sampai kesedihan kekecewaan yang bercampur aduk menjadi satu diakhir hubungan kita.

Bulan demi bulan setiap tanggal 11 aku selalu ingat dan mengucapkan "HAPPY FAILED SAYANG" dengan emoticon smile namun tidak dengan arti yang sesungguhnya. Hanya aku yang tau apa maksudku seperti itu. Aku banyak menaruh harapan, bahkan sampai terlalu banyak hingga yang kudapat selalu kekecewaan dan tangisan.  Bagaimana dengannya? Ya, dia mngetahuinya dan dia tetap dengan kesenangannya sendiri.

Aku tak pernah memimpikan atau mengharapkan seorang yang teramat egois di dunia ini, yang melihat sosok awalku dewasa dan akhirnya menganggapku sebagai anak kecil. Tidakkah dia tau siapa sebenarnya yang seperti anak kecil? Dia bertingkah dewasa, dan slalu ingin dinomor satukan.

Banyak hari-hari yang kulalui dengan tangisan, kecembuuan, kemarahan, dan keirianku. Aku iri dan sangat iri, seseorag yang kuanggap sekarang tak ada dewasanya tetap saja menjadi harapan dan fikiranku yng tiada henti. Aku tau kalian bosan mendengarkan cerita ini, bahkan akupun bosan yang menjalani ini.

Lanjut pada pertengahan tahun 2015, tepatnya bulan kelahiranku "JULI". Aku tak mengharapkan dia mengucapkan selamat ulang tahun untukku, namun aku menantikannya, hingga hari itu usai dan bulan itu tlah berlalu, masih tak dapat pula kudpati ucapan itu darinya. Aku mulai mencoba mengakhiriya lagi, ingin benar-benar melupakannya dan mencoba dengan hariku yang baru dengan penuh senyuman. Beberapa waktu berlalu memasuki bulan ke delapan yaitu Agustus. Minggu kedua bulan ini aku pulang ke rumahku di Lampung, sebelum keberangkatanku ada sms masuk dan ternyata itu dari dia, dia menanyakan dimana aku sekarang, apakah aku masih di Jogja? Dengan cepat aku membalas "ya, kenapa? Besok pun aku sudah sampai disana".

Beberapa hari berlalu, tiba-tiba datang sebuah sms yang mengatakan "Dan, apa kamu ingat dulu kamu pernah menulis sebuah note didalam fd-ku? Aku ingin bertanya, apa yang kamu maksud dalam fd itu dan hal apa yang membuatmu tak bisa melupakanku?". Seketika aku terkejut setelah membaca pesan itu, membuang rasa cemas dengan tertawa tanpa alasan. Dan aku mulai membalasnya, "iya, bahkan sampai saat ini aku masih ingat kata-kataku yang terdapat dinote itu. Kenapa? Apa kamu sangat ingin tau alasannya? Seberapa penting alasan itu untukmu saat ini?". Setelah beberapa jawaban kudapat darinya, ada satu pesan yang mengganggu fikiranku, pesan yang sampai saat ini sangat aku harapkan dan sangat ingin itu terwujud bukan hanya janji busuk atau sekedar kata-kata kosong darinya.

"Apakah sampai saat ini perasaanmu padaku masih sama sepeti yang dulu? Apa kau masih ingin mengulang masa lalu kita lagi? Jika kau mau, bisakah kau menungguku lebih lama lagi? 3 atau 4 tahun lagi jika kau mau, terserah padamu, kau boleh percaya padaku., tidak juga tidak apa-apa".

Kata-kata itu membuatku shock selama beberapa menit, aku berfikir bahwa siapa dia brani menyuruhku menunggunya lebih lama lagi? Tidakkah dia sadar bahwa aku yang slalu menunggu dan tlah lama menunggunya tanpa ada sikap baiknya slama ini. Sadarkah dia tlah menyakiti hati seseorang yang sangat mencintainya dengan tulus dan penuh kesabaran yang bahkan ia sendiri tau itu. Dimana dirimya yang dulu, slalu berkata bahwa aku harus dewasa, sedangkan dia malah sebaliknya, menjadi anak-anak yang terus ingin bermain dan jauh dari kata dewasa.

Selang beberapa hari aku mengajaknya main keluar, membuang bosanku dirumah, ya dia menyanggupi. Dua kali sabtu terlewati tanpa adanya konfirmasi awal ketidakhadirannya. Pada akhirnya aku yang memutuskan untuk pergi kerumahnya dan iya menyanggupi ketika sesampainya aku disana dia akan mengajakku main keluar. Dan ternyata beberapa jam berlalu, hanya hening di rumahnya dan ia tertidur, aku pun tidur di kamarnya menanti dia bilang "ayo kita keluar", tapi kata-kata itu tak keluar darinya. Alhasil kita dirumah saja, begitu katanya dan mengulang sebagian kejadian terakhir hubungan kita di rumahnya dulu. Hanya sedikit hitungan menit aku dapat menyentuhnya lagi, merasakan hangat sayangnya padaku seperti dulu, jarak pandang mata yang dekat yang membawaku pada masa lalu. Begitu sudah setelahnya kembali dia tidak ada kabar dan mengacuhkanku kembali.

Sampai saat ini kata-kata itu masih saja menghantuiku dan menjadi harapanku setiap malam. Akankah hal itu benar terjadi, aku tau dia sering berbohong dan aku pernah berjanji tidak lagi mempercayai kata-katanya, tetapi selalu berbeda setiap sudah berhadapan dengannya. Haaaahh... Bahkan aku sudah terlalu lelah untuk mengharapkannya, apakah aku benar-benar manusia bodoh, wanita bodoh yang masih saja mengharapkan sesuatu yang belum pasti? Apakah aku wanita bodoh yang terus berusaha sabar setiap waktu untuk menyayanginya?

Banyak cara yang kulakukan untuk membuatnya senang dan banyak pengakuan yang tlah kusampaikan padanya, tetapi tetap juga dia dengan segala keegoisannya. Ntah kapan pula aku dapat sefikiran dengannya, atau mungkin tak akan agar itu menjadi satu hal yang unik dan terus menjadi satu masalah diantara kami.



TO BE CONTINUE…...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar